Manusia dan pandangan hidup
Aku berjalan di sepanjang lorong dengan gugup. Walaupun pada jam ini sekolah masih sepi, satu dua anak sudah terlihat berjalan-jalan di sekitar kelas mereka. Aku malu. Jadi, sekitar semenit terakhir ini, aku bolak-balik menundukkan kepala, menghindari bertatap muka dengan mereka.
Jujur, aku bukan pemalu. Mungkin ada sisi dari diriku yang pemalu, tapi tidak separah ini. Alasan sebenarnya yang membuatku terus menunduk itu, karena...
kepang dua di rambutku.
Di zaman sekarang ini, mana ada yang mengepang dua rambutnya ke sekolah? Ini kan bukannya zaman perang.
Sial!
Aku merutuki teman-temanku dalam hati. Kemarin, kami bermain jenga dan berjanji akan memberi hukuman yang cocok sesuai siapa yang kalah.
Tapi... Memangnya menurut mereka hukuman ini cocok untukku?
Lihat saja!
Hari ini akan segera berakhir, dan besok-besok aku akan mengusulkan hukuman yang lebih memalukan!
-----
Entah bagaimana, hari ini benar-benar terasa begitu cepat. Untungnya juga, selama jam pelajaran dan istirahat, tidak ada kejadian memalukan. Maksudku, adik-adik dan kakak kelas memang melihat aneh ke arahku, beberapa guru juga menanyakan alasan rambutku dikepang dua, tapi tidak ada yang tertawa. Setidaknya, tidak di depanku.
Sekarang, waktu sudah berjalan dua puluh menit sejak bel berdentang, tapi aku masih di kelas bersama Yoo-Ra. Sibuk meratapi topi pink norak bertuliskan 'Prettier than Suzy' yang tergeletak di atas mejaku.
Masalahnya, kepangan di kedua sisi rambutku sudah kulepas, sampai-sampai rambutku jadi super duper keriting, dan setelah itu aku baru sadar, kalau topi yang ada di dalam tasku, bukan topi yang aku maksud untuk bawa hari ini.
Aku salah bawa topi!
Sial!
Kenapa juga aku punya topi aneh itu?
Untunglah, Yoo-Ra akhirnya mau menungguiku sampai sekolah sepi, setelah aku janji akan mentraktirnya bingsu*.
Hari ini teman-temanku sibuk. Seungha dan Misa tidak bisa menemaniku selama itu, karena mereka harus cepat-cepat pergi ke tempat les. Sementara itu, Soo Ah sudah janji akan ikut kencan buta bersama teman SMP-nya. Jadi, mereka sudah pulang sejak lima belas menit lalu. Apa boleh buat, aku jadi minta tolong Yoo-Ra menemaniku.
Dasar teman-teman tidak bertanggung jawab!
"Let's go, gogo!" Yoo-Ra tiba-tiba turun dari meja yang didudukinya, sebelum memakaikanku topi bodoh itu, dan menarikku keluar kelas.
"Aaargh! Tunggu sepuluh menit lagiiii!! Sekarang masih ramai!" tolakku, bersusah payah lepas dari cengkraman bertenaganya.
"Bingsu... Bingsu~~~" Yoo-Ra malah asik nyanyi-nyanyi 'bingsu', mengabaikanku.
Yoo-Ra itu temanku di Sekolah Dasar. Entah bagaimana kita satu sekolah lagi sekarang. Namun, hubungan kami tidak sedekat dulu. Pergaulan kami juga berbeda di sekolah. Tapi apa boleh buat, kan? daripada aku jalan sendiri.
Sekolah memang sudah tidak seramai tadi, walaupun menurutku masih banyak anak yang berkeliaran. Untunglah, mereka tidak memperhatikan topiku.
Namun, tanpa disangka-sangka, dalam usahaku untuk tidak menarik perhatian, Kim seonsaeng-nim memanggilku dengan suara lantangnya.
"Park Nara!"
Aku memperlambat langkahku dan menunduk dalam-dalam. Dari ujung mata, dapat kulihat Yoo-Ra sedang bersiap kabur. Entah ingin kabur karena kehadiran pria itu, atau kabur karena malu pada anak-anak yang mulai tertawa geli melihat tulisan di topiku. Buru-buru aku menggenggam tangannya erat, sambil mendelik tajam padanya.
Aku kira Kim seonsaeng-nim masih di belakangku, ketika tahu-tahu pria setengah baya itu sudah menaruh tangannya di pundakku.
"Ada apa Seonsaeng-nim?" tanyaku dengan suara sumbang karena terkejut. Yoo-Ra terkikik geli di sebelahku.
"Wah! topimu lucu sekali, Nara," Pria itu menatap topiku dengan senyum yang tidak bisa kuartikan. Tawa Yoo-Ra dan anak-anak itu semakin meledak, membuatku menunduk dalam-dalam.
"Kemarin nilai ujianmu bagus Nara! kamu sudah bekerja keras" guru piano kami itu lalu tersenyum bangga, sebelum akhirnya menepuk bagian atas topiku dan pamit jalan duluan.
Akhirnya... aku bisa bernapas lega. Aku menoleh pada Yoo-Ra sambil membetulkan letak topiku, lalu menyadari perubahan drastis pada raut wajahnya.
"Wah! Dasar guru pilih kasih!" omel gadis itu, karena Kim Seonsaeng-nim tidak menyapanya sama sekali.
"Siapa suruh tadi mau kabur duluan?" sindirku.
Yoo-Ra hanya mencebik-cebikkan mulutnya sepanjang jalan kami menuju gerbang.
"Oh, damn! Look at him!" Yoo-Ra tiba-tiba menyenggol lenganku, beberapa langkah dari gerbang.
Otomatis kepalaku langsung menoleh ke lelaki yang ia maksud.

"Woow! He is so damn cute, isn't he?" Yoo-Ra tidak berhenti menyenggol-nyenggol lenganku.
"Hmm..." sahutku datar sambil menunduk.
Lelaki yang dimaksud Yoo-Ra berdiri sekitar empat meter dari gerbang. Dia sedang membagi-bagikan entah brosur apa kepada siswa-siswi yang lewat.
Yoo-Ra yang geram dengan reaksi datarku, lalu mendelik kesal.
"Apa?"
Tanpa berkata apa-apa, dia mendorongku sekuat tenaga dengan bahunya, ke sisi jalan tempat lelaki itu membagikan brosur. Sengaja. Supaya kami lewat di depannya. Tanpa menghiraukan cubitan-cubitan kecilku di lengannya, Yoo-Ra tersenyum lebar pada si lelaki pembagi brosur.
"Brosur apa ini?" Yoo-Ra menginjak kakiku, agar tidak kabur ketika dia hendak berbasa-basi dengan lelaki itu.
"Oh ini... Brosur tempat aku les tari modern," lelaki itu tersenyum ramah, sebelum matanya menangkap tulisan di topiku dan terkikik geli.
"Bukan hanya tarian modern, tempat les-ku juga menyediakan berbagai kelas kesenian, seperti tari-tari lainnya, nyanyi, rap, lalu ada alat musik juga" Lelaki itu melanjutkan sambil masih setengah tertawa.
Siaaal!
"Oooh!!" Yoo-Ra terdengar terlalu antusias menanggapi tawaran itu.
Langsung saja kutarik lengannya pergi.
"Nanti, aku dan temanku coba ke sana ya!" kata Yoo-Ra setengah berteriak.
"Iya, kutunggu!" Lelaki itu balas teriak.
Jangan harap!
*Patbingsu atau patbingsoo adalah dessert khas Korea yang sangat digemari, terutama pada hari-hari musim panas yang terik.
Jujur, aku bukan pemalu. Mungkin ada sisi dari diriku yang pemalu, tapi tidak separah ini. Alasan sebenarnya yang membuatku terus menunduk itu, karena...
kepang dua di rambutku.
Di zaman sekarang ini, mana ada yang mengepang dua rambutnya ke sekolah? Ini kan bukannya zaman perang.
Sial!
Aku merutuki teman-temanku dalam hati. Kemarin, kami bermain jenga dan berjanji akan memberi hukuman yang cocok sesuai siapa yang kalah.
Tapi... Memangnya menurut mereka hukuman ini cocok untukku?
Lihat saja!
Hari ini akan segera berakhir, dan besok-besok aku akan mengusulkan hukuman yang lebih memalukan!
-----
Entah bagaimana, hari ini benar-benar terasa begitu cepat. Untungnya juga, selama jam pelajaran dan istirahat, tidak ada kejadian memalukan. Maksudku, adik-adik dan kakak kelas memang melihat aneh ke arahku, beberapa guru juga menanyakan alasan rambutku dikepang dua, tapi tidak ada yang tertawa. Setidaknya, tidak di depanku.
Sekarang, waktu sudah berjalan dua puluh menit sejak bel berdentang, tapi aku masih di kelas bersama Yoo-Ra. Sibuk meratapi topi pink norak bertuliskan 'Prettier than Suzy' yang tergeletak di atas mejaku.
Masalahnya, kepangan di kedua sisi rambutku sudah kulepas, sampai-sampai rambutku jadi super duper keriting, dan setelah itu aku baru sadar, kalau topi yang ada di dalam tasku, bukan topi yang aku maksud untuk bawa hari ini.
Aku salah bawa topi!
Sial!
Kenapa juga aku punya topi aneh itu?
Untunglah, Yoo-Ra akhirnya mau menungguiku sampai sekolah sepi, setelah aku janji akan mentraktirnya bingsu*.
Hari ini teman-temanku sibuk. Seungha dan Misa tidak bisa menemaniku selama itu, karena mereka harus cepat-cepat pergi ke tempat les. Sementara itu, Soo Ah sudah janji akan ikut kencan buta bersama teman SMP-nya. Jadi, mereka sudah pulang sejak lima belas menit lalu. Apa boleh buat, aku jadi minta tolong Yoo-Ra menemaniku.
Dasar teman-teman tidak bertanggung jawab!
"Let's go, gogo!" Yoo-Ra tiba-tiba turun dari meja yang didudukinya, sebelum memakaikanku topi bodoh itu, dan menarikku keluar kelas.
"Aaargh! Tunggu sepuluh menit lagiiii!! Sekarang masih ramai!" tolakku, bersusah payah lepas dari cengkraman bertenaganya.
"Bingsu... Bingsu~~~" Yoo-Ra malah asik nyanyi-nyanyi 'bingsu', mengabaikanku.
Yoo-Ra itu temanku di Sekolah Dasar. Entah bagaimana kita satu sekolah lagi sekarang. Namun, hubungan kami tidak sedekat dulu. Pergaulan kami juga berbeda di sekolah. Tapi apa boleh buat, kan? daripada aku jalan sendiri.
Sekolah memang sudah tidak seramai tadi, walaupun menurutku masih banyak anak yang berkeliaran. Untunglah, mereka tidak memperhatikan topiku.
Namun, tanpa disangka-sangka, dalam usahaku untuk tidak menarik perhatian, Kim seonsaeng-nim memanggilku dengan suara lantangnya.
"Park Nara!"
Aku memperlambat langkahku dan menunduk dalam-dalam. Dari ujung mata, dapat kulihat Yoo-Ra sedang bersiap kabur. Entah ingin kabur karena kehadiran pria itu, atau kabur karena malu pada anak-anak yang mulai tertawa geli melihat tulisan di topiku. Buru-buru aku menggenggam tangannya erat, sambil mendelik tajam padanya.
Aku kira Kim seonsaeng-nim masih di belakangku, ketika tahu-tahu pria setengah baya itu sudah menaruh tangannya di pundakku.
"Ada apa Seonsaeng-nim?" tanyaku dengan suara sumbang karena terkejut. Yoo-Ra terkikik geli di sebelahku.
"Wah! topimu lucu sekali, Nara," Pria itu menatap topiku dengan senyum yang tidak bisa kuartikan. Tawa Yoo-Ra dan anak-anak itu semakin meledak, membuatku menunduk dalam-dalam.
"Kemarin nilai ujianmu bagus Nara! kamu sudah bekerja keras" guru piano kami itu lalu tersenyum bangga, sebelum akhirnya menepuk bagian atas topiku dan pamit jalan duluan.
Akhirnya... aku bisa bernapas lega. Aku menoleh pada Yoo-Ra sambil membetulkan letak topiku, lalu menyadari perubahan drastis pada raut wajahnya.
"Wah! Dasar guru pilih kasih!" omel gadis itu, karena Kim Seonsaeng-nim tidak menyapanya sama sekali.
"Siapa suruh tadi mau kabur duluan?" sindirku.
Yoo-Ra hanya mencebik-cebikkan mulutnya sepanjang jalan kami menuju gerbang.
"Oh, damn! Look at him!" Yoo-Ra tiba-tiba menyenggol lenganku, beberapa langkah dari gerbang.
Otomatis kepalaku langsung menoleh ke lelaki yang ia maksud.

"Woow! He is so damn cute, isn't he?" Yoo-Ra tidak berhenti menyenggol-nyenggol lenganku.
"Hmm..." sahutku datar sambil menunduk.
Lelaki yang dimaksud Yoo-Ra berdiri sekitar empat meter dari gerbang. Dia sedang membagi-bagikan entah brosur apa kepada siswa-siswi yang lewat.
Yoo-Ra yang geram dengan reaksi datarku, lalu mendelik kesal.
"Apa?"
Tanpa berkata apa-apa, dia mendorongku sekuat tenaga dengan bahunya, ke sisi jalan tempat lelaki itu membagikan brosur. Sengaja. Supaya kami lewat di depannya. Tanpa menghiraukan cubitan-cubitan kecilku di lengannya, Yoo-Ra tersenyum lebar pada si lelaki pembagi brosur.
"Brosur apa ini?" Yoo-Ra menginjak kakiku, agar tidak kabur ketika dia hendak berbasa-basi dengan lelaki itu.
"Oh ini... Brosur tempat aku les tari modern," lelaki itu tersenyum ramah, sebelum matanya menangkap tulisan di topiku dan terkikik geli.
"Bukan hanya tarian modern, tempat les-ku juga menyediakan berbagai kelas kesenian, seperti tari-tari lainnya, nyanyi, rap, lalu ada alat musik juga" Lelaki itu melanjutkan sambil masih setengah tertawa.
Siaaal!
"Oooh!!" Yoo-Ra terdengar terlalu antusias menanggapi tawaran itu.
Langsung saja kutarik lengannya pergi.
"Nanti, aku dan temanku coba ke sana ya!" kata Yoo-Ra setengah berteriak.
"Iya, kutunggu!" Lelaki itu balas teriak.
Jangan harap!
*Patbingsu atau patbingsoo adalah dessert khas Korea yang sangat digemari, terutama pada hari-hari musim panas yang terik.
Komentar
Posting Komentar