Manusia dan tanggung jawab

Sepotong Roti di Malam Sunyi

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang bernama kevin, ia adalah pemuda yang memiliki tubuh kurus berbadan pendek dan berambut keriting. Pekerjaannya setiap hari ialah mengantar pesanan pizza ke setiap pelanggan yang memesan melalu telepon kasir kerjanya. Kevin memiliki banyak teman saat dia berada di luar, sikapnya yang baik dan hangat kepada setiap orang membuatnya banyak dikenal.

Malam hari tepatnya pukul 22.00 sebuah telepon di meja kasir tempatnya bekerja berbunyi nyaring.
“kringggg… kringgg… kriiiinngg!!”. kevin bergegas menggenggam telephone itu dan langsung mengangkatnya. Dia membuka dengan salam hangat
“Selamat malam, pizza hut siap melayani”
“selamat malam mas, saya mau pesan satu pizza hut jumbo dengan dagingnya dibanyakin di setiap sisinya, dan harus diantar sekarang, apakah bisa?” suara itu seperti gadis cantik yang sedang kelaparan, Pikir Kevin dan dengan lantang kevin menjawabnya
“oh iya bisa mbak saya akan antar” suaranya keras bersemangat
“Oke mas cepet ya sudah laper banget soalnya” perempuan itu menjelaskan alamat rumahnya
“Siapp mbak dipastikan tiga puluh menit sudah sampai di tempat tujuan”
“Lama banget mas” protes perempuan itu
“emang mbak mau berapa menit” tanya Kevin
“Sepuluh menit mas”
“Ya nggak bisa dong mbak, emang mbak mau makan pizza dengan daging mentah”
“iihhh gak mau!”
“ya udah deh mas saya tunggu, tiga puluh menit lagi ya?”
“Iya mbak tenang” perempuan itu menutup telephonenya

Jalanan yang sepi dan angin malam yang berhembus sepoi-sepoi mengiringinya dalam perjalanan menuju rumah pelanggan itu. Tanpa ragu dan takut dia terus mengendarai motornya dengan lancar tanpa hambatan. Ia melewati beberapa belokan di perempatan. Hingga akhirnya dia sampai pada suatu rumah yang berpagar hitam dan dia menekan bel rumah itu. Pintu rumah itu terbuka dan keluarlah seorang gadis yang gemuknya bukan main dengan memakai kaos oblong berwarna pink, pipinya gemuk hingga kedua matanya menyipit seperti orang cina tapi sebenarnya bukan. Dia memberikan pizza itu dan menerima ongkosnya. Kevin pergi sambil menahan tawa karena apa yang dia pikirkan tidak sama dengan kenyataannya.
Dia bergegas kembali mengendarai motornya menembus gelapnya malam dan meruntuhkan kesunyian dengan suaranya yang keras.

dalam perjalanan tiba-tiba ia merasa lapar sehingga ia mampir ke warung pinggir jalan untuk membeli sebungkus nasi; tetapi setelah ia melihat isi dompetnya ternyata tidak bisa memenuhi keinginannya, akhirnya dia memutuskan untuk membeli roti yang berukuran kecil.

Dia membuka bungkus roti itu di trotoar jalan dengan disorot lampu kota bewarna kuning dan saat ia mau menggigit roti itu ada tiga anak kecil laki-laki yang memakai baju compang camping dan kumal sedang duduk sambil menyandarkan tubuh mereka di tiang listrik. Dua dari mereka membawa ukulele dan ecek-ecek. Kevin menghampiri dan menyapa ke tiga anak kecil itu.

“hayy dek, kok malem-malem gini belum pada pulang?” mereka diam dan tidak menjawab
“hello nama kalian siapa?” Kevin bertanya lagi tapi tetap mereka tak menjawab
“kalian sudah makan?” mereka menggelengkan kepala tapi tetap tak ada suara keluar dari mulut mereka
Salah satu dari mereka berdiri menjawab pertanyaan Kevin dengan menggerak-gerakkan tangan dan jari, ia bermaksud ingin menjelaskan bahwa dia dan kedua saudaranya adalah tiga saudara kembar yang tuna wicara. Dia mengambil sobekan kertas dari saku celananya yang bertuliskan nama mereka masing-masing. Kevin membaca dan menyebutkan nama itu satu per Satu
“Dodo” anak yang membawa ukulele berdiri
“Dedi” anak yang membawa ecek-ecek mengangkat tangannya tanpa berdiri
“Didit” anak yang pertama kali berkomunikasi dengan Kevin lewat gerak tangan dan jari tersenyum


Hati kevin timbul rasa simpati lalu dia menjawabnya dengan bahasa isyarat juga kemudian ia memotong rotinya yang kecil itu menjadi empat bagian lalu ia makan bersama-sama mereka sambil duduk di sebuah trotoar yang kotor dan berdebu. Ketiga anak itu memakan sepotong roti kecil itu dengan lahap. Akhirnya kevin tau bahwa mereka sedang lapar. Ketika dia memandang tiga anak itu, air matanya perlahan mulai keluar dari matanya. Kebersamaan yang istimewa itu tercipta dengan sepotong roti di malam yang dingin, dan sunyi.

Nama : Anisya Rahmelia
Npm : 10218902


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia dan penderitaan

Manusia dan kesusastraan

Manusia dan penderitaan