Manusia dan pandangan hidup

Anganku menjadi dokter


Di dalam gelapnya sebuah malam terdapat sebuah keluarga yang hidup dalam kesederhanaan. Ia hanya memiliki seorang ibu dan ditemani oleh 1 orang saudarinya. Ayahnya telah tiada sejak ia masih kecil. Setelah ayah mereka meninggal dunia hidupnya semakin susah, mereka harus kerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Aku masih duduk di bangku kelas 2 sma, aku juga sebagai tulang punggung keluarga karena aku anak sulung diantara adik ku. Di saat aku selesai pulang sekolah, aku bekerja sebagai tukang cuci piring disebuah warteg dekat terminal bus. Upah mencuci piring yang di berikan lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan Kami. Adik ku, sera yang masih duduk di bangku kelas 3 smp juga menolong ku mencari nafkah sebagai penjual kue keliling.

Sehari- hari untuk kebutuhan makan kami masih dapat mencukupinya, ketika ayah meninggal beliau meninggalkan wasiat berupa tanah yang cukup luas yang harus digunakan untuk melanjutkan pendidikan kami sampai jadi sarjana. Keadaan ibu sangat  memprihatinkan, setiap dua bulan sekali kami harus membeli obat yang rutin diminum. Setahun yang lalu ibu di diagnosis menderita penyakit paru paru basah. Untungnya penghasilan kami dari hasil bekerja sehari-hari ditambah dengan uang tambahan dari paman dapat mencukupi untuk segala kebutuhan kami. Suatu hari ibu berpesan, "sita, kamu dan adik mu harus hidup dengan baik, jangan sampai kamu putus sekolah agar kehidupan masa depan mu nanti tidak lagi sesulit sekarang ,Sebab mendiang ayah mu sudah berpesan kepada ibu terlebih dahulu di waktu itu". mendengar pesan ibu semangat ku untuk menjadi seorang dokter semakin membara,dalam anganku semoga aku bisa mengobati ibu kelak nanti.

Nama : Anisya Rahmelia
Npm : 10218902

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia dan penderitaan

Manusia dan kesusastraan

Manusia dan penderitaan